Wawancara Eksklusif Nasionalnews
Di tengah dunia yang terus diguncang konflik geopolitik, perang regional, krisis energi, dan ketegangan global, kondisi keamanan nasional Indonesia justru menunjukkan stabilitas yang relatif kuat. Mantan Wakil Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), As’ad Said Ali, menilai bahwa Indonesia memasuki tahun 2026 dengan situasi keamanan yang terkendali, politik yang stabil, serta fondasi ekonomi yang cukup solid untuk melangkah lebih jauh.
Dalam wawancara eksklusif bersama nasionalnews, As’ad memaparkan pandangannya tentang peta keamanan nasional, tantangan intelijen di era digital, hingga pesan strategis bagi para pemangku kepentingan agar tidak menyia-nyiakan momentum stabilitas nasional.
Nasionalnews (NN):
Bagaimana Bapak melihat gambaran umum kondisi keamanan nasional Indonesia pada 2026?
As’ad Said Ali (ASA):
Secara umum, saya melihat kondisi keamanan nasional Indonesia berada dalam situasi yang relatif aman dan terkendali. Tidak ada ancaman signifikan yang bersifat strategis, baik dari dalam negeri maupun dari luar. Tentu dinamika tetap ada, tetapi masih dalam batas yang dapat dikelola oleh negara.
“Stabilitas ini penting, karena keamanan adalah prasyarat utama bagi pembangunan. Tanpa rasa aman, mustahil sebuah negara bisa fokus membangun ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tegasnya, saat wawancara dengan awak media nasionalnews di Jakarta, 4/1/25.
NN:
Apakah stabilitas ini juga tercermin dalam kehidupan politik nasional?
ASA:
Ya, kehidupan politik nasional juga relatif stabil. Kontestasi politik berjalan lebih dewasa dibandingkan periode-periode sebelumnya. Perbedaan pandangan tidak lagi dengan mudah berubah menjadi konflik terbuka. Ini menunjukkan proses pendewasaan demokrasi kita terus berlangsung.
Stabilitas politik memberi ruang bagi pemerintah untuk bekerja lebih fokus, tidak tersandera oleh kegaduhan politik yang berlebihan. Ini modal besar yang harus dijaga bersama.
NN:
Isu radikalisme dan ekstremisme masih kerap muncul dalam diskursus publik. Bagaimana Bapak menilainya saat ini?
ASA:
Radikalisme memang belum sepenuhnya hilang, tetapi saat ini berada dalam level yang dapat dikendalikan. Aparat keamanan dan intelijen memiliki pengalaman panjang dalam menangani isu ini. Pendekatannya pun tidak lagi semata-mata represif, tetapi juga preventif dan persuasif.
Pencegahan melalui pendidikan, literasi, serta penguatan nilai kebangsaan menjadi kunci. Radikalisme bukan hanya persoalan keamanan, tetapi juga persoalan sosial dan ideologis.
NN:
Dengan kondisi global yang tidak menentu, apakah ada potensi ancaman dari luar negeri?
ASA:
Potensi selalu ada, tetapi tidak dalam bentuk ancaman langsung yang serius terhadap kedaulatan Indonesia. Justru yang perlu diwaspadai adalah dampak tidak langsung, seperti perang informasi, disrupsi ekonomi global, dan konflik siber.
Ancaman modern tidak selalu datang dalam bentuk militer konvensional. Karena itu, kewaspadaan tetap harus dijaga meskipun situasi relatif aman.
NN:
Bapak menyinggung soal tantangan baru. Bagaimana seharusnya BIN dan komunitas intelijen beradaptasi?
ASA:
BIN harus terus adaptif terhadap perkembangan zaman. Tantangan ke depan bukan lagi hanya soal intelijen konvensional, tetapi juga teknologi. Artificial intelligence, keamanan siber, big data, analitik prediktif—semua itu harus menjadi bagian dari sistem intelijen nasional.
Intelijen modern dituntut lebih cepat, lebih presisi, dan berbasis data. Tanpa penguasaan teknologi, intelijen akan tertinggal dan tidak relevan menghadapi ancaman masa depan.
NN:
Bagaimana Bapak melihat hubungan antara stabilitas keamanan dan kinerja ekonomi nasional?
ASA:
Hubungannya sangat erat. Stabilitas keamanan menciptakan iklim yang kondusif bagi investasi dan pertumbuhan ekonomi. Saat ini pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di kisaran 5 persen. Jika dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang sekitar 2,3 persen, capaian Indonesia tergolong tinggi.
Ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menjadi salah satu kekuatan ekonomi yang menjanjikan di tingkat global, terutama di kawasan Asia.
NN:
Apakah capaian ini cukup untuk membuat Indonesia optimistis menghadapi masa depan?
ASA:
Saya cukup optimistis. Indonesia memiliki sumber daya alam, bonus demografi, serta stabilitas politik dan keamanan yang relatif baik. Tantangannya adalah bagaimana semua potensi ini dikelola dengan tepat dan berkelanjutan.
Optimisme harus disertai kerja keras dan kebijakan yang tepat. Kita tidak boleh lengah hanya karena merasa aman.
NN:
Apa pesan strategis Bapak kepada para pemangku kepentingan nasional?
ASA:
Pesan saya sederhana tetapi penting: karena situasi keamanan relatif aman, para pemangku kepentingan harus benar-benar fokus pada pembangunan ekonomi. Jangan terjebak pada konflik-konflik yang tidak produktif.
Perkuat sektor riil, tingkatkan kualitas sumber daya manusia, dorong inovasi, dan manfaatkan teknologi. Keamanan yang sudah terjaga harus menjadi landasan untuk melompat lebih jauh, bukan sekadar dipertahankan.
NN:
Sebagai penutup, bagaimana Bapak melihat Indonesia dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan?
ASA:
Saya tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Selama stabilitas keamanan dan politik bisa dipertahankan, serta negara mampu beradaptasi dengan perubahan global dan teknologi, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang disegani.
Masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh ancaman, tetapi oleh kemampuan kita memanfaatkan stabilitas untuk membangun. (Red 01)















































