Revolusi kendaraan tanpa awak telah melampaui fase eksperimental. Drone bukan lagi sekadar alat terbang atau kapal tanpa awak, melainkan simpul strategis dalam jaringan kecerdasan buatan, satelit, sistem data real-time, dan arsitektur pertahanan modern. Dari laboratorium kampus hingga fasilitas manufaktur berteknologi tinggi, Korea Selatan menunjukkan bagaimana visi jangka panjang mampu mengubah riset menjadi kekuatan industri. Dalam wawancara eksklusif NasionalNews, Muhammad Wicaksono—Kandidat Doktor (Ph.D. Candidate) program Magister dan Doktoral di Kumoh National Institute of Technology—menguraikan bagaimana Asia Timur membangun ekosistem drone berbasis AI, serta bagaimana Indonesia memiliki peluang historis menjadi kekuatan drone maritim dunia jika mampu menyatukan riset, industri, dan kebijakan dalam satu visi nasional.
Dari Platform ke Arsitektur Sistem
RN: Muhammad, bagaimana Anda melihat transformasi drone dalam satu dekade terakhir?
MW: Perubahan paling mendasar adalah pergeseran paradigma. Dulu drone dipandang sebagai platform—alat terbang tanpa pilot yang dikendalikan jarak jauh. Kini drone adalah sistem otonom terintegrasi.
UAV (Unmanned Aerial Vehicle) maupun USV (Unmanned Surface Vehicle) bekerja dalam ekosistem yang melibatkan sensor canggih, edge computing, AI berbasis deep learning, jaringan komunikasi satelit, hingga pusat komando berbasis cloud.
Artinya, nilai strategisnya tidak lagi hanya pada kemampuan terbang atau berlayar, melainkan pada bagaimana data dikumpulkan, diproses, dianalisis, dan diubah menjadi keputusan. Di sinilah letak kedaulatan teknologi modern—pada penguasaan algoritma dan arsitektur sistem.
Korea Selatan: Konsistensi sebagai Mesin Inovasi
RN: Apa yang membuat Korea Selatan mampu melesat cepat dalam industri drone?
MW: Konsistensi kebijakan dan integrasi riset–industri. Di Korea Selatan, pemerintah memiliki roadmap teknologi jangka panjang hingga 20–30 tahun. Dana R&D tidak berubah drastis setiap pergantian pemerintahan. Stabilitas ini menciptakan ekosistem yang matang.
Di kampus seperti Kumoh National Institute of Technology, kolaborasi dengan industri bukan formalitas. Penelitian diarahkan pada kebutuhan nyata—mulai dari kontrol otonom, optimasi aerodinamika, hingga sistem navigasi berbasis AI.
Mahasiswa tidak hanya menulis tesis, tetapi mengembangkan prototipe. Prototipe diuji, disempurnakan, lalu masuk tahap komersialisasi. Rantai inovasi ini berjalan berkesinambungan.
Budaya kerja di sini juga sangat disiplin. Standar kualitas tinggi menjadi kebiasaan. Itu membuat transisi dari laboratorium ke produksi massal relatif cepat.
Pertahanan Masa Depan: Loyal Wingman dan Swarm AI
RN: Seberapa penting drone dalam modernisasi militer Korea Selatan?
MW: Sangat penting. Mereka memandang drone sebagai pengganda kekuatan (force multiplier).
Salah satu konsep kunci adalah loyal wingman—drone pendamping jet tempur seperti KF-21 Boramae. Drone ini dapat melakukan misi berisiko tinggi: pengintaian, pengalihan ancaman radar, hingga dukungan serangan presisi.
Integrasi AI memungkinkan drone beroperasi semi-otonom dalam formasi. Pilot manusia tetap memegang kendali strategis, tetapi beban operasional teknis banyak diambil alih sistem cerdas.
Selain itu, pengembangan swarm intelligence menjadi fokus besar. Sekelompok drone dapat bertindak sebagai satu entitas kolektif, berbagi data secara real-time, dan menyesuaikan taktik berdasarkan kondisi lapangan.
Ini bukan lagi sains fiksi. Ini sedang diuji dan dikembangkan.
Dimensi Geopolitik dan Keamanan Regional
RN: Apakah faktor geopolitik berpengaruh terhadap percepatan inovasi?
MW: Tentu. Ketegangan dengan Korea Utara mendorong Seoul memperkuat sistem deteksi dan pertahanan anti-drone.
Namun di luar aspek militer, ada motivasi ekonomi dan strategis yang lebih luas: Korea Selatan ingin menjadi pusat teknologi otonom Asia-Pasifik. Mereka tidak ingin hanya membeli sistem dari luar, tetapi menjadi eksportir teknologi bernilai tinggi.
Kolaborasi global juga memainkan peran besar. Aliansi dengan perusahaan internasional mempercepat transfer teknologi sekaligus membuka akses pasar global.
Indonesia: Momentum dan Tantangan
Fondasi yang Sudah Ada
RN: Bagaimana Anda melihat posisi Indonesia dalam lanskap ini?
MW: Indonesia memiliki fondasi awal yang penting. Program UAV nasional seperti Elang Hitam membuktikan kapasitas rekayasa dalam negeri.
Sejak era LAPAN dan kini terintegrasi dalam BRIN, riset aeronautika dan sistem tanpa awak telah berkembang lebih dari satu dekade.
Masalahnya bukan pada kemampuan dasar, tetapi pada konsistensi dan skala produksi. Kita sering memulai dengan semangat besar, namun kurang sustain dalam industrialisasi.
Keunggulan Geografis: Drone Maritim
RN: Mengapa Anda menyebut Indonesia berpotensi menjadi kekuatan drone maritim?
MW: Karena kebutuhan dan geografi kita unik. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, pengawasan laut dan distribusi logistik adalah tantangan permanen.
USV dapat digunakan untuk patroli laut berbiaya rendah dan pemantauan perikanan. UAV dapat memetakan jalur pelayaran, memonitor illegal fishing, hingga membantu pencarian dan penyelamatan.
Jika UAV dan USV terintegrasi dengan sistem satelit dan pusat data nasional, kita membangun arsitektur maritim digital yang efisien. Itu bukan hanya soal keamanan, tetapi juga ekonomi biru.
Drone bisa mempercepat pengiriman logistik ke pulau terpencil, mengurangi biaya transportasi, dan membuka akses ekonomi baru.
Tantangan Kemandirian dan SDM
RN: Apa hambatan utama Indonesia?
MW: Pertama, kemandirian komponen. Sensor presisi, chip AI, sistem navigasi, dan modul komunikasi masih banyak diimpor. Tanpa rantai pasok domestik, kita rentan terhadap gangguan geopolitik.
Kedua, SDM AI dan sistem kontrol. Drone modern membutuhkan algoritma canggih untuk navigasi otonom, deteksi objek, dan pengambilan keputusan adaptif. Kita harus memperbanyak insinyur AI, data scientist, dan ahli sistem embedded.
Ketiga, regulasi. Regulasi harus adaptif dan mendukung inovasi, tanpa mengorbankan keselamatan dan keamanan data.
Kolaborasi Militer–Sipil
RN: Bagaimana masa depan integrasi sipil dan militer?
MW: Ke depan, batasnya semakin tipis. Teknologi pertahanan akan mengalir ke sektor sipil—pertanian presisi, energi terbarukan, pengawasan lingkungan, hingga smart city.
Sebaliknya, inovasi startup sipil juga akan memperkaya teknologi militer. Kolaborasi dua arah ini mempercepat inovasi.
Drone bukan lagi alat perang semata, tetapi infrastruktur data bergerak.
Generasi Muda dan Etika Teknologi
RN: Apa pesan Anda untuk generasi muda Indonesia?
MW: Jangan melihat AI sebagai ancaman. Kuasai ia. Tetapi jangan kehilangan karakter.
Teknologi akan semakin cerdas, tetapi manusia tetap penentu arah. Kita membutuhkan generasi yang tidak hanya mampu coding, tetapi juga memahami etika, kepemimpinan, dan dampak sosial teknologi.
Profesi masa depan meliputi:
Arsitek sistem otonom
Ahli etika AI
Analis kebijakan teknologi
Spesialis keamanan siber
Visioner industri maritim digital
Kembangkan skill sesuai passion, tetapi dengan kedalaman. Jangan hanya mengejar tren.
Refleksi Akhir: Kedaulatan di Era Sistem Otonom
RN: Jika Anda membayangkan Indonesia 15 tahun ke depan?
MW: Saya membayangkan Indonesia dengan jaringan UAV dan USV terintegrasi, mendukung pengawasan laut, mitigasi bencana, dan logistik nasional.
Saya membayangkan pusat riset AI yang kuat, rantai pasok komponen lokal, dan industri manufaktur drone berstandar global.
Itu bukan mimpi kosong. Fondasinya sudah ada. Tinggal keberanian politik dan konsistensi kebijakan.
Langit masa depan bukan sekadar ruang udara. Ia adalah ruang data. Siapa yang menguasai sistem otonom, ia yang menentukan arah ekonomi dan keamanan.
Penutup
Revolusi drone adalah revolusi senyap yang mengubah wajah peradaban. Korea Selatan menunjukkan bahwa visi jangka panjang, investasi SDM, dan kolaborasi global mampu menciptakan lompatan teknologi.
Indonesia memiliki momentum sejarah untuk tidak sekadar menjadi pasar, tetapi produsen sistem otonom maritim dan udara.
Muhammad Wicaksono menutup wawancara dengan kalimat reflektif:
“Teknologi akan terus berkembang. AI akan semakin cerdas. Tetapi yang menentukan arah peradaban tetap manusia. Jika kita membangun kompetensi, integritas, dan visi hari ini, maka Indonesia tidak hanya menyaksikan masa depan—kita ikut merancangnya.” (Red 01)















































