Dari soliditas Iran hingga goyahnya legitimasi Amerika, Mayor Jenderal TNI (Purn.) H. Tatang Zaenudin menilai dunia sedang bergerak menuju titik kritis yang bisa mengubah peta kekuatan global—dan Indonesia harus berhati-hati menentukan posisi.
Malam yang teduh di kawasan Komplek Kopassus, Cijantung, Jakarta Timur, 1 April 2026, menjadi latar perbincangan serius tentang masa depan dunia. Di kediamannya yang asri namun penuh aura ketegasan militer, Mayor Jenderal TNI (Purn.) H. Tatang Zaenudin menerima tim NasionalNews. Di tengah aroma kopi hangat ia memaparkan analisisnya tentang konflik Timur Tengah yang kian memanas. Baginya, ini bukan sekadar perang antarnegara, melainkan pertarungan arah peradaban global—yang dampaknya bisa menjangkau hingga ke dapur rumah tangga masyarakat Indonesia.
NasionalNews (NN):
Bagaimana Anda membaca eskalasi konflik yang terjadi saat ini?
Mayjen (Purn.) Tatang Zaenudin (TZ):
Kita sedang menyaksikan akumulasi konflik panjang yang akhirnya mencapai titik kritis. Amerika berusaha membangun koalisi besar, tidak hanya dengan NATO dan Jepang, tetapi juga mencoba menarik negara-negara seperti Rusia, China, bahkan Korea Utara. Namun respons dunia menunjukkan sesuatu yang berbeda: tidak semua negara mau terseret dalam konflik ini. Ini tanda bahwa dominasi satu kekuatan global mulai memudar.
NN:
Apakah ini berarti dunia sedang menuju tatanan baru?
TZ:
Betul. Kita sedang bergerak ke arah dunia multipolar. Tidak ada lagi satu kekuatan yang bisa memaksakan kehendaknya secara mutlak. Ini membuat konflik menjadi lebih kompleks, karena setiap negara punya kepentingan sendiri.
NN:
Bagaimana Anda melihat posisi Iran dalam situasi ini?
TZ:
Iran menunjukkan soliditas yang jarang dimiliki banyak negara. Ketika pemimpin tertinggi mereka wafat, transisi kepemimpinan berjalan cepat tanpa gejolak. Itu bukan hal kecil. Dalam kondisi tekanan eksternal, stabilitas internal seperti itu menjadi kekuatan utama.
NN:
Apa yang membuat rakyat Iran tetap solid?
TZ:
Ada faktor ideologi, nasionalisme, dan pengalaman sejarah. Mereka sudah terbiasa menghadapi tekanan dan sanksi. Jadi ketika konflik meningkat, mereka tidak mudah goyah.
NN:
Mengapa negara-negara Timur Tengah yang memiliki pangkalan Amerika tidak merespons serangan Iran?
TZ:
Karena mereka berada di persimpangan kepentingan. Secara militer mereka terikat dengan Amerika, tapi secara sosial mereka tidak bisa melawan arus opini publik yang banyak bersimpati pada Iran. Jadi mereka memilih diam. Ini bukan kelemahan, tapi strategi bertahan.
NN:
Jika negara Arab bersatu, apakah benar Amerika dan Israel bisa dikalahkan?
TZ:
Secara teori, iya. Mereka punya sumber daya besar, posisi geografis strategis, dan jumlah penduduk yang signifikan. Tapi realitanya, perpecahan politik dan kepentingan nasional masing-masing membuat persatuan itu sulit terjadi.
NN:
Bagaimana Anda melihat sikap Iran yang menolak proposal Amerika?
TZ:
Itu refleksi dari hilangnya kepercayaan. Dalam diplomasi, kepercayaan itu kunci. Kalau sudah rusak, sulit diperbaiki. Iran merasa pernah dikhianati, jadi mereka memilih berdiri di posisi tegas.
NN:
Iran juga membatasi akses Selat Hormuz hanya untuk kapal Amerika dan sekutunya. Apa maknanya?
TZ:
Itu langkah strategis. Mereka tidak ingin memusuhi dunia secara keseluruhan, hanya menekan pihak lawan. Ini bisa menarik simpati global, tapi juga meningkatkan risiko eskalasi.
NN:
Seberapa besar peluang konflik ini berkembang menjadi perang dunia?
TZ:
Peluangnya ada, terutama jika kekuatan besar terlibat langsung. Ini bukan konflik lokal biasa. Ini bisa menjadi pemicu konflik global.
NN:
Bagaimana dampaknya terhadap ekonomi dunia?
TZ:
Sudah mulai terasa. Harga energi naik, distribusi terganggu. Negara-negara seperti India, Filipina, Thailand, Singapura mulai merasakan dampaknya. Jika berlanjut, inflasi global akan meningkat tajam.
NN:
Bagaimana dengan Indonesia?
TZ:
Indonesia tidak akan kebal. Harga kebutuhan pokok akan naik, tekanan ekonomi meningkat. Jika tidak dikelola dengan baik, bisa memicu instabilitas sosial.
NN:
Apa yang seharusnya dilakukan Indonesia?
TZ:
Kita harus kembali ke prinsip nonblok seperti era Bung Karno. Jangan terlalu condong ke kekuatan mana pun. Netralitas adalah kekuatan kita.
NN:
Apakah Indonesia perlu menjadi mediator?
TZ:
Bisa, tapi harus hati-hati. Jangan sampai kita terseret terlalu dalam. Peran sebagai jembatan diplomasi cukup.
NN:
Bagaimana Anda melihat penguatan militer Indonesia saat ini?
TZ:
Itu langkah yang tepat. Dunia sedang tidak stabil. Setiap negara harus siap menghadapi kemungkinan terburuk.
NN:
Anda juga mengkhawatirkan dampak sosial dalam negeri?
TZ:
Ya. Jika krisis ekonomi terjadi, dampaknya bisa luas. Kita pernah mengalami 1998. Dan saat ini, saya belum melihat figur pemersatu yang kuat jika krisis besar terjadi.
NN:
Bagaimana kondisi politik di Amerika?
TZ:
Tekanan terhadap kepemimpinan di sana meningkat. Banyak kritik dari masyarakat dan kongres. Dalam situasi perang, tekanan seperti ini bisa berbahaya.
NN:
Anda memprediksi kemungkinan ekstrem?
TZ:
Dalam politik, semua kemungkinan terbuka. Ketika tekanan meningkat, perubahan bisa terjadi sangat cepat.
NN:
Jika Iran menutup total Selat Hormuz, apa dampaknya?
TZ:
Itu akan menjadi guncangan besar bagi ekonomi global. Dampaknya bisa lebih besar dari pandemi. Energi adalah urat nadi ekonomi dunia.
NN:
Apakah Iran masih menyimpan kekuatan tersembunyi?
TZ:
Kemungkinan besar iya. Dalam strategi militer, selalu ada cadangan kekuatan yang tidak langsung ditampilkan.
NN:
Siapa yang bisa menghentikan konflik ini?
TZ:
Secara realistis, Amerika. Tapi mereka harus mau menerima kompromi. Masalahnya, itu sulit karena faktor ego sebagai negara adidaya.
NN:
Apakah diplomasi masih punya peluang?
TZ:
Selalu ada, tapi kecil. Karena posisi kedua pihak sudah terlalu jauh.
NN:
Apa pesan Anda untuk dunia?
TZ:
Perang ini tidak akan menghasilkan pemenang sejati. Semua akan rugi. Dunia harus kembali pada rasionalitas dan menahan diri.
Langit Cijantung perlahan berubah gelap ketika wawancara berakhir. Di teras rumahnya, Tatang Zaenudin, memandang jauh seolah menembus batas-batas geografis menuju Timur Tengah yang tengah bergejolak. Kata-katanya tidak meledak-ledak, namun justru terasa berat—seperti peringatan yang lahir dari pengalaman panjang di dunia militer.
Dunia hari ini, menurutnya, tidak hanya sedang menghadapi konflik senjata, tetapi juga konflik ego, kepentingan, dan arah peradaban. Ketika diplomasi kehilangan kepercayaan, dan kekuatan menjadi bahasa utama, maka risiko kehancuran bersama menjadi semakin nyata.
Bagi Indonesia, badai itu mungkin masih terasa jauh. Namun riaknya sudah mulai menyentuh—melalui harga energi, stabilitas ekonomi, hingga ketahanan sosial. Dalam situasi seperti ini, pilihan menjadi sangat penting: ikut terseret arus atau berdiri sebagai penyeimbang.
Satu hal terasa jelas dari perbincangan malam itu—bahwa masa depan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang paling kuat, tetapi oleh siapa yang masih mampu menahan diri. Dan dalam dunia yang semakin bising oleh konflik, kemampuan itu justru menjadi kekuatan yang paling langka. (Red 01)















































