Amerika, – Di balik kisah sukses meraih beasiswa ke Amerika Serikat, tersimpan perjalanan panjang yang tidak selalu mulus. Siti Nuraisyah Suwanda, S.T., M.M., Ph.D. (Cand.), membuktikan bahwa mimpi besar tidak harus dicapai dengan cara instan. Dalam wawancara khusus bersama Majalah NationalNews pada 2 April 2026, kandidat PhD in Marketing di West Virginia University ini membagikan refleksi mendalam tentang mimpi, kegagalan, dan strategi nyata menembus beasiswa luar negeri.
Wawancara Khusus
NationalNews: Banyak yang percaya bahwa untuk berhasil, seseorang harus gagal terlebih dahulu. Apakah Anda setuju?
Siti Nuraisyah:
Saya tidak sepenuhnya setuju dengan kata “harus”. Tidak ada aturan bahwa seseorang wajib gagal dulu untuk bisa berhasil. Tapi dalam praktiknya, perjalanan menuju keberhasilan itu hampir tidak pernah lurus. Dalam perjalanan saya, ada beberapa momen gagal, tertunda, bahkan hampir menyerah. Misalnya saat SMA, saya sempat diterima dalam program ke luar negeri, tetapi karena beasiswanya belum penuh, saya memutuskan tidak berangkat. Saat itu rasanya sangat mengecewakan, seperti kehilangan peluang besar. Namun ternyata, itu bukan akhir. Justru itu bagian dari proses yang membentuk kesiapan saya di tahap berikutnya.
NationalNews: Sejak kapan Anda memiliki mimpi untuk kuliah ke luar negeri?
Siti Nuraisyah:
Sejak SMP. Awalnya sederhana sekali. Saya melihat teman-teman yang bisa pergi ke luar negeri, sementara saya belum pernah. Dari situ saya mulai menyadari bahwa pendidikan di luar negeri membutuhkan biaya besar. Sejak saat itu, saya menanamkan niat bahwa kalau suatu hari ingin ke luar negeri, saya harus melalui jalur beasiswa. Bukan karena gengsi, tapi karena saya ingin mandiri dan tidak membebani orang tua. Waktu itu saya belum tahu jalannya seperti apa, tapi niatnya sudah ada.
NationalNews: Mengapa akhirnya memilih Amerika Serikat sebagai tujuan?
Siti Nuraisyah:
Momen pentingnya terjadi saat saya kuliah S1 di ITB. Saya mendapat kesempatan mengikuti Harvard National Model United Nations di Amerika Serikat. Dalam perjalanan itu, saya mengunjungi New York, Boston, dan Washington DC. Dari ketiga kota itu, Washington DC memberikan kesan yang sangat kuat. Ada rasa nyaman yang sulit dijelaskan, seperti ada keterikatan emosional. Sejak saat itu, saya punya doa sederhana: suatu hari saya ingin kembali dan tinggal di sana. Selain itu, secara akademik, khususnya di bidang bisnis dan marketing, Amerika masih menjadi salah satu pusat keilmuan dunia dengan kualitas pendidikan dan jaringan yang sangat luas.
NationalNews: Banyak orang hanya mengenal LPDP dan Fulbright. Apakah ada jalur lain?
Siti Nuraisyah:
Ya, sebenarnya ada banyak jalur. Selain LPDP dan Fulbright, ada juga beasiswa langsung dari universitas di Amerika. Biasanya dalam bentuk teaching assistantship atau research assistantship. Ini sangat umum untuk jenjang PhD. Bahkan banyak mahasiswa doktoral di Amerika yang kuliah dengan skema ini. Saya sendiri akhirnya berangkat melalui kombinasi Fulbright dan dukungan dari kampus. Karena itu, penting untuk tidak membatasi diri hanya pada beasiswa yang populer. Kadang justru peluang besar datang dari jalur yang kurang dikenal.
NationalNews: Anda sempat menyebut bahwa persiapan ini terasa seperti 20 tahun. Bisa dijelaskan?
Siti Nuraisyah:
Kalau dilihat dari niat awal sejak SMP, memang terasa sangat panjang. Tapi tentu bukan berarti saya mempersiapkan beasiswa setiap hari selama itu. Lebih tepatnya, saya menjalani proses membangun diri secara bertahap. Saya belajar bahasa Inggris sejak dini, aktif di debate club saat SMA dan kuliah, mengikuti berbagai kompetisi, serta mencoba memperkaya pengalaman organisasi dan akademik. Saat dijalani, semua itu terasa seperti aktivitas biasa. Tapi ketika waktunya melamar beasiswa, saya baru sadar bahwa semua pengalaman itu saling terhubung dan menjadi bekal yang sangat penting.
NationalNews: Apa saja tips konkret bagi yang ingin mendapatkan beasiswa ke Amerika?
Siti Nuraisyah:
Pertama, punya arah atau “grand map” hidup. Tidak perlu terlalu detail, tapi kita harus tahu ingin ke mana. Kedua, membangun kualitas diri dan CV secara konsisten. Ini tidak bisa instan, jadi harus dimulai sejak dini. Ketiga, aktif mencari informasi tentang berbagai jenis beasiswa, termasuk yang tidak terlalu populer. Keempat, mencari mentor. Ini sangat penting karena mentor bisa memberikan arahan, masukan, bahkan membuka peluang yang mungkin tidak kita ketahui. Dan terakhir, percaya diri serta berdoa. Banyak orang sebenarnya mampu, tapi ragu pada dirinya sendiri. Padahal keyakinan itu sangat menentukan.
NationalNews: Apa pesan Anda untuk mereka yang masih ragu mengejar mimpi ini?
Siti Nuraisyah:
Kalau hari ini belum berhasil, bukan berarti gagal selamanya. Bisa jadi memang belum waktunya. Perjalanan setiap orang berbeda. Ada yang cepat, ada yang butuh waktu lebih lama. Dan itu tidak masalah. Yang penting adalah tetap bergerak dan tidak berhenti mencoba. Karena sering kali, yang kita anggap sebagai kegagalan sebenarnya hanyalah bagian dari proses menuju hasil yang lebih tepat di waktu yang tepat.
Kisah Siti Nuraisyah Suwanda menjadi pengingat bahwa mimpi besar tidak selalu datang dengan jalan yang cepat dan mudah. Ada proses panjang, ada kegagalan, dan ada penantian. Namun justru di sanalah nilai dari perjalanan itu terbentuk. Sebab pada akhirnya, keberhasilan bukan hanya tentang sampai di tujuan, tetapi tentang siapa diri kita ketika berhasil mencapainya.







































