Kudus – pada saat duduk santai mengenakan sarung di ruang tengah rumah peninggalan orang tua di Kudus teringat ketika sholat jumat, pertama kali di Damaskus, Syria.
“Saya teringat ketika sholat jumat, pertama kali di Damaskus, Syria. bersama dua anak lelaki saya. Sejak memasuki ruang utama masjid saya merasa mendapat
perhatian jamaah, mungkin karena orang asing. Begitu khotbah dan sholat selesai, takmir masjid memberi salam dan izin minta bicara. Beliau menanyakan tentang pakaian yang saya pakai. Secara singkat saya jelaskan bahwa umumnya orang Indonesia mengenakan sarung kalau beribadah di masjid,” tutur mantan Waka-BIN tersebut kepada nasionalnews, Minggu, 10/9/23.
Menurutnya, takmir masjid dengat sangat ramah khas orang Syria, menyarankan ke dia lain kali jangan dipakai untuk sholat di masjid, Meskipun syah untuk sholat, tetapi dianggap menganggu konsentrasi jamaah lain karena pakaian tersebut dianggap aneh yang jarang mereka lihat.
KH. As’at pun mengiyakan apa yang dikatakan oleh takmir masjid dan dia kemudian diperkenalkan takmir masjid lainnya dan imam masjid yang menyambut saya secara familier.
“Benar kata kyai yang mendidik saya ketika masih kanak kanak – remaja di madrasah Ibtidaiyah – maarif NU – suatu dalil “ Al ‘aadah muhakamah” . Adat kebiasaan menjadi bagian dari hukum ,wajar kalau saya tidak membantah permintaan takmir masjid,” pungkasnya. (Red 01)















































