Jakarta – Mantan Wakil Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. As’ad Said Ali, membagikan pengalaman uniknya tentang cerutu, yang ternyata memiliki kaitan erat dengan tembakau Indonesia sebagai bahan baku utamanya.
Berawal dari perkenalannya dengan cerutu saat bertugas di Arab Saudi pada 1981, KH. As’ad mengungkapkan bahwa cerutu bermerek COHIBA asal Kuba, yang terkenal mahal dan berkualitas tinggi, menggunakan bahan tembakau dari Indonesia. Cerita ini diperkuat saat Presiden Abdurrahman Wahid memberikan cerutu sebagai oleh-oleh dari Fidel Castro saat kunjungan ke Kuba.
Lebih lanjut, KH. As’ad juga menyebut bahwa tembakau dari Jember dan Deli menjadi kombinasi utama yang menciptakan rasa cerutu yang nikmat dan diminati secara global. Penggunaan cerutu dalam pergaulan diplomatik, seperti yang ia alami di Damaskus, menjadi bukti lain bahwa produk ini tidak hanya menjadi simbol gaya hidup, tetapi juga alat komunikasi antarnegara.
“Selain itu, ia menyoroti potensi besar tembakau Indonesia, khususnya Jember, yang kini telah mengembangkan tembakau pelapis luar cerutu eks Kuba, membuka peluang bagi peningkatan kualitas cerutu nasional di pasar dunia,:” ungkapnya. 10/12/24
Cerutu tidak hanya menjadi simbol prestise, tetapi juga mampu menjadi sumber devisa dan alat diplomasi yang memperkuat posisi Indonesia di panggung internasional.















































