Jakarta – Ketegangan antara Iran dan Israel yang menyeret Amerika Serikat telah mengguncang stabilitas global. Ancaman perluasan konflik, risiko keterlibatan blok besar seperti Rusia dan Tiongkok, hingga spekulasi penggunaan senjata pemusnah massal membuat banyak pengamat menyebut dunia tengah berada di ambang babak paling berbahaya dalam sejarah modern. Dalam wawancara eksklusif bersama Redaksi NasionalNews di Komplek Kopassus Cijantung, Mayor Jenderal TNI (Purn) H. Tatang Zaenudin memaparkan pandangannya secara tajam dan penuh perhitungan: dari geopolitik Timur Tengah, posisi Indonesia sebagai negara non-blok, peluang mediasi Presiden Prabowo Subianto, hingga pentingnya kembali pada semangat Perserikatan Bangsa-Bangsa dan roh asli Undang-Undang Dasar 1945.
WAWANCARA KHUSUS
Redaksi NasionalNews (RN)
Mayor Jenderal TNI (Purn) H. Tatang Zaenudin (TZ)
Lokasi: Komplek Kopassus Cijantung, Jakarta Timur 3/2/2026.
RN:
Jenderal, bagaimana Anda membaca eskalasi konflik yang kini terjadi antara Iran dan Israel dengan keterlibatan Amerika Serikat?
TZ:
Ini bukan konflik biasa. Ketika sebuah negara diserang hingga menyebabkan gugurnya pemimpin tertingginya, maka itu sudah masuk kategori eskalasi ekstrem. Dalam hukum internasional, kedaulatan negara adalah prinsip utama. Jika itu dilanggar, maka stabilitas global ikut terguncang.
Iran bukan negara kecil. Mereka memiliki struktur pertahanan yang kuat, jaringan sekutu regional, serta pengalaman panjang menghadapi tekanan internasional. Saya melihat Iran tidak akan menyerah begitu saja. Dalam psikologi perang, bangsa yang merasa terhina cenderung bertahan sampai titik terakhir.
RN:
Apakah Anda melihat potensi konflik ini melebar?
TZ:
Potensinya besar. Timur Tengah adalah kawasan yang penuh kepentingan energi dan militer. Amerika Serikat memiliki banyak kepentingan strategis di sana. Jika Iran membalas terhadap kepentingan tersebut, maka spiral konflik akan terus membesar.
Yang berbahaya adalah keterlibatan kekuatan besar lainnya. Bila Rusia, Tiongkok, atau Korea Utara secara langsung masuk membantu Iran, maka konfigurasi global berubah. Itu bisa menjadi konflik blok besar seperti era Perang Dingin, bahkan lebih kompleks karena melibatkan teknologi modern dan perang siber.
RN:
Banyak pihak menyebut ini sebagai awal Perang Dunia Ketiga. Bagaimana pandangan Anda?
TZ:
Saya tidak ingin istilah itu digunakan secara sembarangan. Namun kita tidak bisa menutup mata terhadap indikatornya. Polarisasi global meningkat, retorika militer mengeras, dan diplomasi sering kali tertinggal oleh aksi militer.
Perang modern tidak selalu dimulai dengan deklarasi resmi. Ia bisa dimulai dari serangkaian eskalasi kecil yang terus membesar. Dunia hari ini seperti berada di tepi jurang—satu langkah salah bisa membawa kita ke konflik luas.
RN:
Mengapa negara-negara besar seperti Rusia dan Tiongkok tampak menahan diri?
TZ:
Dalam strategi militer dan geopolitik, langkah besar selalu dihitung dengan matang. Negara besar tidak bergerak berdasarkan emosi. Mereka membaca momentum, menakar keuntungan dan kerugian.
Diam bukan berarti tidak bertindak. Bisa jadi mereka bergerak di belakang layar—melalui diplomasi, tekanan ekonomi, atau dukungan intelijen. Dunia saat ini tidak hanya bertempur di medan perang, tetapi juga di ruang informasi dan ekonomi.
RN:
Bagaimana posisi Indonesia dalam situasi ini?
TZ:
Indonesia memiliki sejarah sebagai pelopor Gerakan Non-Blok. Namun realitas geopolitik hari ini jauh lebih kompleks dibanding era Perang Dingin.
Kita harus berhitung. Jangan sampai terseret menjadi bagian dari konflik proksi. Diplomasi Indonesia harus tetap berpijak pada kepentingan nasional. Prinsip bebas aktif tetap relevan, tetapi harus diterjemahkan dengan kecermatan tinggi.
RN:
Presiden Prabowo menyatakan kesiapan menjadi mediator. Apa pandangan Anda?
TZ:
Menjadi mediator adalah langkah terhormat. Indonesia memiliki reputasi diplomasi damai. Namun keberhasilan mediasi sangat bergantung pada momentum.
Jika salah satu pihak baru saja mengalami kehilangan besar akibat serangan, ruang dialog sangat sempit. Emosi kolektif masih tinggi. Saya pesimis mediasi bisa cepat berhasil dalam situasi seperti ini.
Selain itu, faktor keamanan juga penting. Dalam situasi konflik aktif, risiko selalu ada. Presiden harus sangat berhati-hati.
RN:
Anda sempat bertemu Presiden?
TZ:
Ya. Saya hanya menyampaikan pesan sederhana: jaga kesehatan dan keamanan. Pemimpin negara dalam situasi global seperti ini harus ekstra waspada.
RN:
Ada kekhawatiran penggunaan senjata nuklir. Seberapa realistis itu?
TZ:
Dalam doktrin pertahanan, senjata strategis adalah opsi terakhir ketika eksistensi negara benar-benar terancam. Tidak ada negara yang ingin menggunakannya karena dampaknya global.
Namun dalam kondisi terdesak, keputusan bisa menjadi irasional. Itulah mengapa diplomasi internasional harus bekerja keras mencegah eskalasi.
Perang nuklir tidak mengenal pemenang. Semua akan terdampak.
RN:
Bagaimana dampaknya bagi Indonesia jika konflik membesar?
TZ:
Dampak langsung adalah ekonomi. Harga minyak naik, inflasi meningkat, rantai pasok terganggu. Indonesia sebagai bagian dari ekonomi global pasti terkena imbas.
Karena itu saya menyarankan masyarakat untuk bersiap secara rasional. Punya cadangan kebutuhan pokok dalam batas wajar adalah langkah antisipatif, bukan kepanikan.
RN:
Anda menyebut Indonesia berpotensi menjadi negara adidaya. Apa syaratnya?
TZ:
Potensi kita besar: jumlah penduduk, sumber daya alam, dan posisi strategis. Namun potensi tidak cukup. Tata kelola negara harus efisien.
Presiden tidak bisa bekerja sendiri. Para menteri dan aparat harus profesional. Loyalitas saja tidak cukup; kompetensi dan integritas jauh lebih penting.
RN:
Bagaimana Anda melihat kepemimpinan nasional saat ini?
TZ:
Saya melihat niat pengabdian yang kuat. Namun tantangannya adalah sistem birokrasi yang kompleks. Reformasi membutuhkan ketegasan dan dukungan tim yang solid.
Kalau struktur kepemimpinan seperti komando militer, mungkin lebih cepat. Tapi dalam demokrasi, semua harus melalui proses.
RN:
Anda juga menyinggung pentingnya kembali pada roh konstitusi?
TZ:
Para pendiri bangsa telah meletakkan fondasi kokoh melalui Pancasila dan UUD 1945. Pasal 33 misalnya, jika diterapkan sungguh-sungguh, dapat mewujudkan keadilan sosial.
Kita perlu refleksi mendalam terhadap arah bangsa. Jangan sampai nilai dasar hanya menjadi simbol tanpa implementasi.
RN:
Apa pesan Anda kepada rakyat Indonesia?
TZ:
Persatuan adalah kunci. Dunia boleh memanas, tapi kita harus tetap tenang. Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar.
Indonesia memiliki fondasi kuat. Jika kepemimpinan nasional solid dan rakyat bersatu, kita mampu melewati badai global.
Refleksi Akhir
Wawancara panjang di Komplek Kopassus Cijantung itu berlangsung dalam suasana tenang. Namun isi pembicaraan sarat peringatan. Mayor Jenderal TNI (Purn) H. Tatang Zaenudin melihat dunia sedang bergerak menuju fase yang tidak pasti.
Ia tidak secara tegas menyatakan Perang Dunia Ketiga pasti terjadi, namun ia melihat tanda-tanda yang patut diwaspadai. Eskalasi militer, polarisasi global, dan melemahnya kepatuhan terhadap hukum internasional menjadi kombinasi yang berbahaya.
Di tengah semua itu, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: tetap teguh pada prinsip bebas aktif, memperkuat ketahanan nasional, dan memastikan tata kelola negara berjalan profesional.
“Dunia sedang diuji,” ujarnya pelan di akhir wawancara. “Dan Indonesia harus siap, bukan dengan kepanikan, tetapi dengan persatuan dan ketegasan.”
Sejarah mungkin sedang menulis babak baru. Pertanyaannya, apakah bangsa ini cukup matang untuk berdiri tegak di tengah badai geopolitik global? (Red 01)















































