Jakarta, – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kementerian Agama, serta berbagai lembaga jasa keuangan meresmikan Ekosistem Pusat Inklusi Keuangan Syariah (EPIKS) di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Jakarta Timur. Program ini menjadi langkah strategis memperkuat literasi dan inklusi keuangan syariah sekaligus mendorong penguatan ekosistem ekonomi syariah di wilayah DKI Jakarta.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengapresiasi kolaborasi lintas lembaga dalam peresmian EPIKS. Ia menegaskan bahwa pesantren memiliki peran strategis sebagai pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Literasi dan inklusi keuangan adalah bekal penting bagi santri, guru, pengurus pesantren, dan seluruh keluarga besar pondok. Edukasi inilah yang akan menjaga masyarakat dari berbagai risiko di era digital,” ujar Friderica. Jum’at (12/12/25).
Kepala OJK Jabodebek, Edwin Nurhadi, menyampaikan bahwa EPIKS bertujuan menghadirkan layanan keuangan syariah yang mudah diakses masyarakat pesantren, termasuk tabungan pelajar, pembiayaan UMKM, layanan investasi syariah, hingga pelatihan literasi keuangan. “Dengan terbentuknya EPIKS, kami berharap lingkungan pesantren dapat lebih aktif memanfaatkan produk dan layanan keuangan syariah,” kata Edwin.
Ketua Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, KH. Chairul Baihaqi, mengapresiasi inisiatif OJK dan berharap program ini menjadi contoh bagi ekosistem pendidikan Islam lainnya.
EPIKS merupakan bagian dari program strategis TPAKD DKI Jakarta dan roadmap Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS), yang berfokus pada edukasi, penguatan lembaga keuangan syariah, pengembangan industri halal, serta pemberdayaan UMKM Syariah. Inisiatif ini juga mendukung visi “Jakarta Top 20 Global City”, khususnya dalam memperkuat posisi Jakarta sebagai pusat keuangan syariah yang kompetitif.
Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki ekosistem pendidikan besar dengan lebih dari 1.600 pelajar, 300 santri, dan 22 UMKM. Kolaborasi pelaksanaan EPIKS melibatkan Bursa Efek Indonesia, Bank Syariah Indonesia, Phintraco Sekuritas, serta Sekolah Tinggi Agama Islam Minhaajurrosyidiin (STAIMI).
Rangkaian kegiatan peresmian EPIKS meliputi edukasi keuangan syariah dan pasar modal untuk sekitar 750 pelajar dan mahasiswa, penyerahan kartu santri dan tabungan pelajar, pemberdayaan UMKM dan koperasi menjadi Agen Laku Pandai Syariah, penandatanganan komitmen pembentukan Galeri Investasi Syariah (GIS) pertama di lingkungan pesantren di DKI Jakarta, serta inisiatif Green Economy melalui reverse vending machine dan penanaman pohon.
OJK mencatat bahwa hingga Oktober 2025 telah dilaksanakan 1.627 kegiatan edukasi keuangan syariah yang menjangkau lebih dari 6,2 juta peserta, serta 5.738 kegiatan GENCARKAN Syariah dengan total 15,2 juta peserta. Berbagai program tematik seperti SAKINAH, SICANTIKS, SOS, ISFO 2025, dan SYAFIF terus memperkuat pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan syariah.
Implementasi EPIKS sejauh ini telah menghasilkan pembukaan 93 agen layanan keuangan syariah, pembentukan galeri investasi syariah, peningkatan akses pembiayaan, serta perluasan kegiatan edukasi di pesantren. Capaian ini melanjutkan keberhasilan program EPIKS tahun 2024 yang telah diterapkan di 10 pondok pesantren dan pra-kegiatan di 20 pesantren lainnya di berbagai daerah.
Peresmian dihadiri lebih dari 750 pelajar dan santri, serta berbagai tokoh termasuk Direktur Pengembangan Bursa Efek Indonesia Jeffrey Hendrik, Wakil Direktur Utama Bank Syariah Indonesia Bob Tyasaka Ananta, Direktur Phintraco Sekuritas Andre Mahardika, Kepala Biro Dikmental Setda DKI Jakarta Fajar Eko Satriyo, Ketua STAIMI Dr. Tri Gunawan, perwakilan Kementerian Agama DKI Jakarta, dan mitra strategis lainnya.
(Red)















































