JAKARTA, – Pulau Rempang merupakan bagian dari tiga pulau terpisah, tetapi kemudian terhubung menjadi satu kesatuan yang dikenal dengan Balerang singkatan dari Batam – Galang- Rempang. Ketiga pulau tsb terhubung satu sama lain oleh jalan diatas laut yang terkenal dengan “jembatan Barelang” yang dibangun pada 1992 – 1998. Pulau Rempang terletak ditengah, diapit oleh P Batam dan P Galang.
“As’ad Said Ali menceritakan bahwa P Galang pernah menjadi tempat penampungan pengungsi dari Vietnam sebagai dampak dari perang Vietnam. Dalam perang Vietnam tersebut, dua negara adidaya terlibat. Pada satu sisi Amerika Serikat membantu pemerintah Vietnam Selatan dan pada sisi lain USSR ( Rusia ) membantu Vietnam Utara ( komunis ) dan Gerilyawan Vietcong yang ingin menggulingkan pemerintah Vietnam Selatan,”ungkap As’ad yang pernah menjabat sebagai mantan Waka-BIN kepada rekan media, Kamis ( 21/9/23).
Dijelaksan kembali pria Asal kudus, Ketika P Galang menjadi lokasi pengungsi Vietnam , saya beberapa kali melewati atau menginjakkan kaki di ketiga pulau tsb.. Kawasan Laut Riau seperti Bintan, Batam, Rempang dan bahkan pulau Bangka – Belitung ( Babel ) selain pemandangan pantai yang mempesona , juga mempunyai kekayaan laut yang sangat potensial, berbagai jenis ikan di terumbu karang yang mengelilingi pulau.
“Setiap berkunjung ke Kepulauan Riau dan Babel saya selalu diajak kolega duduk dan di warung makan tepi pantai. Menu favorit yang disajikan adalah ikan Napoleon yang belum pernah saya jumpai ditempat lain. Ikan tersebut hidup di terumbu karang ditepi pantai,”katanya.
Ikan napoleon dimasak dengan bumbu nanas. Luar biasa nikmat sekali rasanya. Saya membayangkan di sorga nanti akan tersaji makanan senikmat itu.
“Saya meminta agar masakan ikan Napoleon dibungkus untuk dibawa pulang. Tetapi ibu pemilik warung minta maaf, sebab ikan Napoleon termasuk “ larangan “ karena ikan yang dilindungi dari kepunahan,”imbuhnya.
Kasus Rempang mengingatkan saya atas perang Vietnam yang mengakibatkan ribuan warga Vietnam mengungsi akibat konflik antara dua negara adidaya tersebut.
“Dalam kasus Rempang, potensi konflik yang melibatkan dua negara adidaya antara Amerika Serikat / AS vs Republik Rakyat Tiongkok ( RRT ) bukan hal yang mustahil, kalau persoalannya dibiarkan berkepanjangan yang akan berdampak negatip terhadap situasi politik nasional,”pungkas As’ad yang pernah menjabat sebagai Wakil ketua umum PBNU.
Dipermukaan isu yang merebak adalah soal penggusuran dan belum adanya kesepakatan tentang relokasi tempat tinggal baru serta tindakan aparat keamanan yang dianggap kurang proporsional.
Dalam suasana menjelang pilpres dan pileg, kasus Rempang telah meluas menjadi isu nasional misalnya isu SARA. Disamping itu mulai terdengar sayup sayup indikasi adanya upaya negara asing untuk mempengaruhi hasil pilpres yang akan datang.
“Saya berharap “kasus Rempang” selesai secepatnya. Dalam hal ini kunci penyelesaian sudah disampaikan oleh Presiden Jokowi Widodo yang memerintahkan agar pihak terkait “ memperbaiki komunikasi dengan masyarakat / warga Rempang”. Dan jangan lupa sebagai lokasi korban perang Vietnam yang bersejarah Rempang adalah “ SIMBOL KEMANUSIAAN “, tutup As’ad.
(Red-03)















































