Jakarta – Menikmati semilir angin sore hari sambil nyerutu sisa kemarin dan nyeruput kopi hitam tanpa gula dihalaman belakang rumah.
Pikiran terasa tenang sekilas terbayang informasi via telpon tadi pagi dari teman sesama mantan telik sandi dari Malaysia. Ia menceritakan oposisi berseragam “kaos kuning “ yang menjatuhkan PM Najib Tun Razak yang berkuasa dari 2009 – 2018. Ia jatuh atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan / korupsi. Kawan Malaysia tersebut menjelaskan bahwa revolusi kuning Malaysia merupakan bagian “revolusi warna / bunga” . Najib Tun Razak dianggap oleh AS sebagai penerus Mahathir Mohammad yang kritis terhadap posisi AS di Asia Tenggara.
“Pikiran saya menerawang ke situasi menjelang pilpres 2024 ; Indonesia yang mempunyai nilai strategis dari aspek geo politik-ekonomi – sosial-budaya – ideologi. Logis jika Amerika Serikat dan negara besar lainnya seperti RRC misalnya berkepentingan atas kebijakan pemerintah baru Indonesia,” kata mantan Waka-BIN tersebut kepada nasionalnews, Selasa, 12/9/23.
Menurutnya, selama satu dekade lalu AS menganggap Indonesia condong ke RRC. Terus terang dia khawatir …. terjadi Revolusi Warna atau Revolusi Bunga,,,,,,,,,Melihat kebelakang menjelang jatuhnya Bung Karno dan tampilnya Pak Harto, Letjen ALI Murtopo srbagai operator politik Orba pada waktu itu mencetuskan “ teory pendulum” bahwa bandul politik Indonesia akan berayun ke arah Barat. Dan dalam rangka menggerakkan pendulum baru tersebut Pak Ali membentuk CSIS ,,,,
Dengan pengalaman sejarah masa lalu, penting bagi bangsa ini untuk menjaga momentum pilpres agar tidak menjadi ajang pertarungan global. Meskipun ini mustahil, namun setidaknya para kontestan pilpres mampu menjaga independensinya, agar sejarah tidak berulang. (Red 01)















































