NASIONALONLINE ID, SALATIGA – Jenang atau dodol merupakan salah satu kuliner tradisional Indonesia yang hingga kini masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Camilan berbahan dasar beras ketan, gula merah, dan santan atau kelapa ini dikenal memiliki cita rasa manis dan tekstur khas.
Di balik kelezatannya, proses pembuatan jenang membutuhkan waktu dan tenaga yang tidak sedikit. Untuk mengolah sekitar 10 kilogram bahan baku, proses memasak dapat berlangsung selama 7 hingga 8 jam hingga menghasilkan jenang dengan tekstur dan kualitas yang diharapkan.
Secara umum, jenang mengandung karbohidrat dari tepung ketan dan gula sehingga dapat menjadi sumber energi. Kandungan lemak juga berasal dari santan, sementara gula merah menjadi salah satu bahan utama yang memberikan rasa manis sekaligus karakter khas pada jenang.
Jenang biasanya disajikan dalam berbagai acara maupun dijadikan buah tangan. Dengan kemasan yang semakin menarik, makanan tradisional ini tetap mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Jenang Mbak Brintik, Warisan yang Terus Dijaga
Berbicara tentang jenang di Salatiga, nama Jenang Mbak Brintik menjadi salah satu yang cukup dikenal dan melegenda. Produk jenang tersebut hingga kini masih dapat ditemui di area kios Pasar Blauran, Salatiga.
Usaha tersebut ternyata bukan sekadar bisnis kuliner, melainkan juga bagian dari warisan keluarga yang terus dipertahankan lintas generasi.
Hasyim Hadi Atmojo saat ditemui di tempat produksi di kawasan Karangduren, Kecamatan Tengaran, Jumat (7/8/2026), mengatakan usaha produksi jenang tersebut merupakan usaha turun-temurun yang diwariskan oleh leluhur keluarga.
“Setelah istri atau Mbak Brintik meninggal, kami keluarga tetap meneruskan usaha jenang sebagai warisan leluhur,” ungkap Hasyim.
Menurut Hasyim, saat ini pemasaran Jenang Mbak Brintik masih lebih banyak melayani pelanggan lokal di wilayah Salatiga. Namun, tidak jarang pihaknya juga menerima pesanan dari luar kota.
Tidak hanya jenang, kios Mbak Brintik juga menyediakan berbagai makanan tradisional berbahan dasar beras ketan dan gula merah, seperti wajik, jadah, serta trasikan.
Untuk jenang, produk tersebut dibanderol sekitar Rp50 ribu per kilogram. Sementara omzet penjualan dalam sepekan berada di kisaran Rp5 juta.
Meski di tengah perkembangan kuliner modern, Hasyim berharap usaha keluarga tersebut tetap bertahan dan dapat diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Saya berharap usaha jenang ini bisa menjadi dinasti. Syukur anak saya ke depan bisa meneruskan,” pungkas Hasyim.
(Eny/NN)












































