SEMARANG — Tradisi wanita mengenakan sanggul yang dahulu menjadi bagian kuat dari kehidupan masyarakat Jawa kini semakin jarang ditemui. Di tengah perubahan zaman dan tren gaya rambut modern, perempuan bersanggul umumnya hanya terlihat dalam momentum tertentu, seperti resepsi pernikahan maupun peringatan Hari Kartini setiap 21 April.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Jeng Mamik, Ketua Wanita Bersanggul Indonesia (WBI) Kabupaten Semarang. Ia terus menggaungkan penggunaan sanggul sebagai salah satu bentuk kearifan lokal sekaligus identitas budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Menurut Jeng Mamik, sekitar tiga dasawarsa terakhir terjadi perubahan cukup besar dalam kebiasaan perempuan dalam berpenampilan. Jika sekitar setengah abad lalu sanggul begitu lekat dengan keseharian kaum perempuan, kini keberadaannya semakin terpinggirkan oleh perkembangan mode.
Keprihatinan itulah yang mendorong Jeng Mamik untuk terus mengajak kaum perempuan mengenal dan mencintai kembali budaya leluhur.
“Kita jangan sampai melupakan budaya sendiri. Sanggul bukan sekadar tata rambut, tetapi bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai dan filosofi,” ujar Jeng Mamik. Jumat (21/8/26)
Selain melestarikan budaya, komunitas WBI yang berpusat di Surabaya juga aktif membangun guyub rukun melalui berbagai agenda pertemuan dan kegiatan sosial.
Anggota WBI berasal dari berbagai latar belakang agama. Perbedaan tersebut tidak menjadi penghalang untuk membangun kebersamaan. Toleransi antarumat beragama justru menjadi salah satu nilai yang terus dikedepankan.
Dalam kesempatan tersebut, Jeng Mamik juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Sunarti, Ketua WBI Tulungagung, Jawa Timur.
“Dalam kesempatan ini saya menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Ibu Sunarti. Mugi tansah manggihi rahayu ing pelereman swargi langgeng,” ucap Jeng Mamik.
Di tengah kesibukannya menjalankan usaha Mamic Salon di Candirejo, Pringapus, Jeng Mamik tetap konsisten menjalankan aktivitas pelestarian budaya.
Baginya, kesibukan sebagai pelaku usaha tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan kecintaan terhadap budaya. Melalui WBI, ia berharap tradisi bersanggul tidak berhenti sebagai kenangan masa lalu, tetapi tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.
“Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, siapa lagi?” tegasnya.
(NANO)













































