Ancaman Nyata di Sekitar Kita
Penyalahgunaan narkotika di Indonesia bukan lagi isu pinggiran. Ia telah menjelma menjadi ancaman nyata yang menyusup ke hampir seluruh lapisan masyarakat. Dari kota besar hingga daerah, dari kalangan pekerja hingga pelajar, narkoba kini menjadi bayang-bayang yang terus menghantui masa depan bangsa.
Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Banyak faktor yang melatarbelakangi, mulai dari tekanan sosial, lingkungan pergaulan, lemahnya pengawasan keluarga, hingga minimnya edukasi yang menyentuh akar persoalan. Akibatnya, generasi muda—yang seharusnya menjadi pilar masa depan—justru menjadi kelompok paling rentan.
Di tengah situasi yang kian mengkhawatirkan ini, pendekatan penanganan narkoba tidak bisa lagi hanya mengandalkan aspek hukum dan penindakan semata. Diperlukan solusi yang lebih komprehensif, menyentuh sisi kemanusiaan, serta mampu memulihkan korban secara utuh.
YAYASAN RESIKOBRA
Salah satu lembaga yang hadir dengan pendekatan tersebut adalah Yayasan Resikobra (Rehabilitasi Korban Narkoba Indonesia). Melalui program rehabilitasi berbasis pendekatan humanis dan edukasi menyeluruh, yayasan ini berupaya menjadi bagian dari solusi atas darurat narkoba di Tanah Air.
Redaksi majalah Nasionalnews Wawancara Khusus bersama Nyai Sekar Jingga S. Pada hari Minggu, 19 April 2026 di Kawasan Pondok Gede, Jakarta Timur, Selaku Ketua Umum DPP Yayasan Resikobra
Redaksi: Bagaimana Anda melihat kondisi penyalahgunaan narkotika saat ini?
Nyai Sekar:
Kita harus jujur mengakui bahwa saat ini Indonesia berada dalam kondisi darurat narkoba. Penyalahgunaan sudah sangat meluas dan terus berulang. Ini bukan lagi persoalan kecil yang bisa ditangani setengah-setengah. Jika tidak ada langkah nyata dan serius, dampaknya akan semakin besar bagi masa depan generasi kita.
Redaksi: Apa yang mendorong Anda kembali aktif dalam gerakan ini?
Yang paling utama adalah kepedulian. Saya melihat langsung di lapangan bagaimana narkoba merusak kehidupan anak-anak muda. Banyak dari mereka kehilangan arah, kehilangan masa depan. Dari situlah saya merasa harus bangkit dan kembali menggerakkan program ini. Kalau bukan kita yang peduli, siapa lagi?

Redaksi: Apa yang menjadi pembeda utama Yayasan Resikobra?
Nyai Sekar:
Kami mengedepankan pendekatan yang lebih manusiawi. Korban penyalahgunaan narkoba bukan untuk dihakimi, tetapi untuk diselamatkan. Kami ingin menghadirkan tempat yang aman bagi mereka untuk pulih, bukan sekadar berhenti, tetapi benar-benar kembali ke kehidupan yang lebih baik.
Pendekatan Rehabilitasi Menyeluruh
Yayasan Resikobra mengusung metode rehabilitasi berbasis tiga pilar utama atau yang mereka sebut sebagai pendekatan “trinity”: medis, herbal, dan spiritual. Pendekatan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan pemulihan secara menyeluruh—tidak hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Redaksi: Bisa dijelaskan lebih rinci metode tersebut?
Nyai Sekar:
Pendekatan medis kami gunakan untuk proses detoksifikasi awal. Setelah itu, herbal membantu pemulihan tubuh secara alami, sementara pendekatan spiritual berperan dalam membangun kesadaran diri dan kekuatan mental. Jadi, prosesnya menyeluruh. Kami tidak hanya fokus menghentikan ketergantungan, tetapi memulihkan manusia seutuhnya.
Redaksi: Berapa lama proses rehabilitasi berlangsung?
Umumnya antara tiga hingga enam bulan. Tapi ini tidak bisa disamaratakan, karena setiap individu memiliki tingkat ketergantungan dan kesiapan mental yang berbeda. Kami menyesuaikan pendekatan dengan kebutuhan masing-masing pasien.
Peran Keluarga yang Tak Tergantikan
Keberhasilan rehabilitasi tidak hanya bergantung pada metode, tetapi juga pada dukungan lingkungan terdekat—terutama keluarga.
Redaksi: Seberapa penting peran keluarga dalam proses ini?
Nyai Sekar:
Sangat penting. Keluarga adalah kunci. Tanpa dukungan mereka, proses pemulihan akan jauh lebih sulit. Kami selalu melibatkan keluarga agar mereka memahami kondisi pasien dan bisa memberikan dukungan secara maksimal.
Edukasi sebagai Benteng Utama
Selain rehabilitasi, Yayasan Resikobra menempatkan edukasi sebagai pilar utama dalam pencegahan penyalahgunaan narkotika. Mereka aktif turun langsung ke masyarakat untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.
Redaksi: Apa saja bentuk edukasi yang dilakukan?
Nyai Sekar:
Kami datang ke sekolah-sekolah, pesantren, komunitas masyarakat, hingga kelompok ibu-ibu PKK. Kami memberikan edukasi tentang bahaya narkoba, ciri-ciri pengguna, serta langkah-langkah pencegahan. Edukasi ini penting agar masyarakat tidak hanya tahu, tetapi juga peduli dan waspada.
Redaksi: Apa tanda-tanda awal yang perlu diwaspadai orang tua?
Biasanya terlihat dari perubahan perilaku. Anak menjadi lebih tertutup, sering menyendiri, emosinya tidak stabil, dan terjadi perubahan dalam pergaulan. Ini sering dianggap hal biasa, padahal bisa menjadi tanda awal yang serius.
Modus Baru yang Kian Mengkhawatirkan
Perkembangan zaman membawa tantangan baru dalam penyalahgunaan narkotika. Salah satu yang kini marak adalah penyalahgunaan melalui media seperti cairan vape.
Redaksi: Bagaimana pandangan Anda terkait hal ini?
Nyai Sekar:
Tidak semua vape berbahaya. Yang menjadi masalah adalah cairan yang dicampur zat berbahaya oleh oknum tertentu. Jadi yang harus ditindak tegas adalah pihak yang memproduksi dan mengedarkan zat berbahaya tersebut, bukan alatnya saja.
Gerakan Bersama untuk Masa Depan Bangsa
Penanganan narkoba tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan sinergi dari berbagai pihak—pemerintah, masyarakat, keluarga, hingga lembaga rehabilitasi.
Redaksi: Apa harapan Anda ke depan?
Nyai Sekar:
Saya berharap semua pihak bisa bergerak bersama. Edukasi harus diperkuat, akses rehabilitasi harus dipermudah, dan penindakan terhadap pelaku harus tegas. Tapi yang paling penting adalah kepedulian. Kita tidak bisa diam melihat generasi kita hancur.
Humanis, Komprehensif, dan Berkelanjutan
Yayasan Resikobra membuktikan bahwa perang melawan narkoba tidak harus selalu dilakukan dengan pendekatan represif. Dengan sentuhan kemanusiaan, metode rehabilitasi yang menyeluruh, serta edukasi yang berkelanjutan, peluang untuk menyelamatkan generasi bangsa tetap terbuka lebar.
Pendekatan ini tidak hanya memulihkan individu, tetapi juga memperkuat ketahanan sosial masyarakat secara keseluruhan. Di tengah ancaman narkoba yang semakin kompleks, harapan tetap ada. Selama masih ada kepedulian, gerakan, dan komitmen bersama, masa depan generasi bangsa masih bisa diselamatkan. Karena pada akhirnya, menyelamatkan satu anak hari ini bukan sekadar mengubah satu kehidupan—tetapi menjaga masa depan Indonesia.
(*)















































