Salatiga – Komunitas pecinta situs dan watu candi Dewa Siwa , Minggu (12/4) mengadakan Halal Bihalal dengan cara yang berbeda dan tercermin unik dengan komunitas lainnya.
Acara yang berlangsung di area Sendang Senjoyo Salatiga , yang di ketuai oleh Bintang pada acara Halal Bihalal , ia menyampaikan untuk saat ini banyak sekali situs marginal yang berubah fungsi menyesuaikan perkembangan jaman. Sejarah sosial mengikuti jamannya sehingga kadang berbeda fungsi peninggalan hasil budaya yang ada.
Sementara itu Bambang Murdiyanto selaku Ketua dari komunitas Dewa Siwa menyampaikan bahwa situs Senjoyo dan situs candi Klero ada kaitannya dengan prasasti Plumpungan Salatiga yang berhubungan dengan raja Bhanu, dimana daerah Plumpungan pernah menjadi tanah hampra yang bermanfaat sehingga dibebaskan dari pajak.
Ditempat terpisah , Nanang Krisdianto selaku sesepuh juga menyampaikan untuk adanya aktivitas blusukan tidak terlepas dari adanya generasi muda yang mau peduli untuk melestarikan peninggalan budaya masa Hindu Buddha yang ada. Tentunya dengan logistik swadaya dan sederhana namun mempersatukan dan mengakrabkan semua yang ikut datang blusukan. Dapat dilihat dari antusiasme peserta blusukan yang berasal dari berbagai daerah yang tersebar antar kota, lintas kota dan propinsi sehingga terjalin keakraban dalam komunitas Dewa Siwa.
Ketika mengunjungi situs Ganecha, Noor Hayati salah satu pegiat dan pemerhati budaya menjelaskan tentang Filosofi Ganesha sebagai dewa pengetahuan atau kecerdasan dan kebijaksanaan.
“Ganesha adalah salah satu dewa yang populer dalam agama Hindu dan merupakan putera dari Dewa Siwa dengan Dewi Parwati” ungkap Noor Hayati
Sementara Ganesha dikenal sebagai Dewa ilmu pengetahuan, lambang kecerdasan, penghalau segala rintangan dan pemberi kesejahteraan serta kebijaksanaan bagi para pemujanya.
Tokoh yang memiliki bentuk tubuh tambun, perut buncit, berkepala gajah, bermata sipit, berlengan empat memegang kapak dan mangkuk, dan atribut lain yang dipakainya.
Belalai Ganesha melambangkan perubahan, Artinya belalai tersebut menandakan fleksibelitas, efisiensi dan kemampuan untuk berubah dan menyesuaikan waktu.
Di Jawa Tengah temuan – temuan lepas Ganesha memiliki belalai yang selalu melengkung ke arah kiri. Kenyataan ini memicu pertanyaan apakah belalai seluruh arca Ganesha selalu mengarah ke kiri atau ada juga yang mengarah ke arah yang lain? Apakah arah lengkung arca ini hanyalah merupakan keinginan atau kreativitas pembuatnya saja ataukah memiliki makna- makna tertentu.
Dalam mitologi Hindu, arah lengkung belalai arca Ganesha memiliki makna yang penting.
Tidak semua belalai arca Ganesha melengkung ke arah kiri, lurus menghadap ke arah depan dan ke arah kanan. Hal yang penting dan harus diperhatikan adalah arah mana pangkal belalai Ganesha itu berawal dan bukan ke arah mana ujung belalai tersebut berakhir.
Belalai yang melengkung ke arah kiri memiliki makna yang berkaitan dengan bulan yang memiliki sifat lebih feminim, menenangkan dan memelihara. Di India, arca Ganesha dengan posisi belalai melengkung ke kiri biasanya di tempatlkan di dalam rumah.
Belalai yang melengkung ke arah kanan memiliki makna yang berkaitan dengan matahari, memiliki sifat maskulin dan berapi- api. Biasanya arca ini ditempatkan di tempat- tempat ibadah atau pemujaan dan harus dipuja dengan ritual yang benar. Jika ritual yang dilakukan menyalahi aturan, dipercaya akan memicu kemarahan para Dewa.
Belalai yang lurus menghadap ke arah depan sangat jarang ditemukan namun memiliki makna yang sangat dalam. Belalai yang lurus melambangkan bersatunya seluruh inera di dalam tubuh dengan segala sifat kebaikan telah lengkap dan sempurna. Dalam tahap ini, seseorang sudah tidak terbebani diaggap sudah tidak terbebani dan bersih (NANO)















































