JAKARTA, – Empat unsur penting dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi, yakni pimpinan Institut Sains dan Teknologi Nasional (ISTN), Senat Institut, Yayasan Perguruan Cikini, dan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah III Jakarta, menegaskan pentingnya transformasi budaya akademik dan digital untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta daya saing lulusan.
Pesan tersebut mengemuka dalam Sidang Terbuka Senat ISTN dalam rangka Wisuda Program Magister dan Program Sarjana Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Kamis,15 – Oktober – 2026, di Auditorium Prof. Dr. Ir. R. Roosseno, Kampus ISTN, Jakarta.
Mengusung tema “Melalui Transformasi Budaya Akademik dan Digital, ISTN Menjadi Trendsetter Perguruan Tinggi Indonesia”, momentum wisuda ini tidak hanya menjadi perayaan keberhasilan akademik, tetapi juga penegasan tanggung jawab perguruan tinggi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, berintegritas, adaptif, dan mampu menciptakan inovasi.
Rektor ISTN, Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA, Ketua Senat ISTN Prof. Dr. Phil. Nat. Dr. (HC) Masbah Rotuanta (Masbah RT.) Siregar, APU, Ketua Yayasan Perguruan Cikini Syahrial, serta Kepala LLDikti Wilayah III Jakarta Henri Tambunan menyampaikan pandangan yang saling melengkapi mengenai tantangan pendidikan tinggi di era perubahan teknologi.
Rektor ISTN: Perkuat Mutu Pendidikan Menuju ISTN Unggul 2030
Rektor ISTN, Dr. Ir. Isnuwardianto, DEA, menegaskan komitmen institusinya untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan, memperkuat budaya akademik, mengembangkan penelitian, serta memperluas kolaborasi dengan dunia usaha dan industri.
Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi ISTN Unggul 2030.
Menurut arah pengembangan yang disampaikan dalam sambutan, kemajuan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan penguasaan teknologi. Transformasi digital harus diiringi dengan peningkatan kualitas pembelajaran, integritas ilmiah, tata kelola yang baik, dan penerapan sistem penjaminan mutu secara berkelanjutan.
Salah satu capaian akademik yang menjadi perhatian adalah tingkat kelulusan first taker mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker ISTN angkatan ke-50 sebesar 97,89 persen dalam Uji Kompetensi Nasional Peserta Didik Profesi Apoteker (UKOMNAS PDPA).
Capaian tersebut melanjutkan hasil positif dua angkatan sebelumnya. Angkatan ke-48 mencatat kelulusan 100 persen, sedangkan angkatan ke-49 mencapai 99,6 persen.
Rektor juga menekankan pentingnya penguatan Audit Mutu Internal (AMI) berbasis risiko, peningkatan kualitas program studi, serta pengembangan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Melalui penguatan tersebut, ISTN diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademik, tetapi juga mampu menerapkan ilmu pengetahuan untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan dunia industri.
Ketua Senat: Transformasi Digital Harus Mengubah Cara Berpikir
Ketua Senat ISTN, Prof. Dr. Phil. Nat. Dr. (HC) Masbah Rotuanta (Masbah RT.) Siregar, APU, menyoroti pentingnya transformasi budaya akademik sebagai fondasi untuk membangun perguruan tinggi yang inovatif dan berdaya saing.
Menurutnya, perubahan teknologi harus diimbangi dengan penguatan integritas akademik, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian mengembangkan gagasan baru.
“Transformasi budaya akademik dan digital bukan sekadar perubahan cara belajar, tetapi perubahan cara berpikir, berinovasi, dan berkontribusi.”
Pesan tersebut menempatkan perguruan tinggi bukan hanya sebagai tempat memperoleh gelar akademik, tetapi juga sebagai ruang pengembangan ilmu pengetahuan, kreativitas, dan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Senat juga memiliki peran penting dalam mengawal mutu akademik, menjaga integritas ilmiah, dan mendukung pengembangan kebijakan akademik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Dengan budaya akademik yang kuat, ISTN diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai perguruan tinggi sains dan teknologi yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Ketua Yayasan Perguruan Cikini: Lulusan Harus Berintegritas dan Berani Berinovasi
Ketua Yayasan Perguruan Cikini, Syahrial, menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir dari perjalanan pendidikan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar bagi para lulusan.
Menurutnya, gelar akademik harus diiringi kemampuan menerapkan ilmu pengetahuan, menjaga integritas, terus belajar, dan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam sambutan yang menjadi bahan pemberitaan, ia menekankan bahwa bekal utama lulusan tidak hanya berupa ijazah dan nilai akademik, tetapi juga pola pikir, karakter, serta keberanian menghadapi persoalan nyata.
“Bekal terpenting yang dibawa dari kampus bukan hanya ijazah, nilai, dan gelar akademik. Yang lebih penting adalah cara berpikir, integritas, kemampuan untuk terus belajar, serta keberanian menyelesaikan persoalan yang dihadapi,” demikian pesan dalam sambutan tersebut.
Syahrial juga menyoroti perkembangan teknologi, termasuk kendaraan listrik dan teknologi pengisian baterai berkecepatan tinggi, sebagai gambaran bagaimana inovasi dapat mengubah persaingan industri.
Perkembangan tersebut, menurut pesan sambutannya, harus menjadi dorongan bagi perguruan tinggi berbasis teknologi untuk terus mengembangkan penelitian dan menghasilkan inovasi yang memiliki nilai tambah bagi perekonomian.
Ia berharap lulusan ISTN tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang, mengembangkan usaha, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan nasional.
Henri Tambunan: Kurikulum Kampus Harus Mengikuti Kebutuhan Industri
Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah III Jakarta, Henri Tambunan, menegaskan bahwa perkembangan teknologi yang sangat cepat menuntut perguruan tinggi untuk terus memperbarui kurikulum dan mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu beradaptasi.
Menurut Henri, materi pembelajaran yang relevan saat ini dapat mengalami perubahan dalam waktu singkat seiring munculnya teknologi baru.
“Perkembangan teknologi itu sangat cepat. Apa yang kita pelajari hari ini, dalam satu atau dua bulan ke depan bisa saja sudah ketinggalan. Kalau sumber daya manusia dan lulusan kita tidak bisa beradaptasi, mereka akan tertinggal,” ujar Henri Tambunan.
Ia mencontohkan perkembangan sektor otomotif, mulai dari kendaraan bertransmisi manual, transmisi otomatis, hingga kendaraan listrik yang semakin berkembang.
Perubahan tersebut menuntut perguruan tinggi memperbarui materi pembelajaran, fasilitas praktik, dan kompetensi tenaga pendidik agar sesuai dengan kebutuhan industri.
“SDM-nya harus disiapkan, kurikulumnya juga harus disesuaikan dengan apa yang dibutuhkan industri. Kalau industri sudah berubah, sementara kurikulum kampus tidak mengikuti, nanti lulusannya bisa tidak terserap,” jelasnya.
Henri juga mendorong penerapan Outcome-Based Education (OBE), yakni pendekatan pendidikan yang berorientasi pada capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan.
Melalui pendekatan tersebut, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menerapkan pengetahuan dan keterampilan untuk menyelesaikan persoalan nyata.
Kerja sama dengan industri, termasuk pelibatan praktisi dalam penyusunan kurikulum dan proses pembelajaran, juga dinilai penting untuk meningkatkan kesiapan lulusan memasuki dunia kerja.
Lulusan Tidak Cukup Hanya Mengandalkan Ijazah
Dalam pesannya kepada para wisudawan, Henri menekankan bahwa gelar akademik dan indeks prestasi kumulatif (IPK) merupakan pencapaian penting, tetapi bukan satu-satunya penentu keberhasilan di dunia profesional.
Para lulusan harus mampu menunjukkan kompetensi, meningkatkan keterampilan, dan menyesuaikan diri dengan perubahan kebutuhan tempat kerja.
“Saya mengucapkan selamat kepada seluruh wisudawan dan wisudawati ISTN. Harapan saya, mereka harus segera beradaptasi. Gelar sarjana dan IPK yang diperoleh di kampus itu hanya sebagai pembuka jalan. Lapangan yang sebenarnya adalah di luar sana, di dunia kerja,” kata Henri.
Ia juga mendorong perguruan tinggi membekali mahasiswa dengan kemampuan kewirausahaan agar mereka tidak hanya berorientasi mencari pekerjaan, tetapi juga berpotensi membuka lapangan kerja.
Menurutnya, pengembangan entrepreneurship di lingkungan kampus dapat memperluas peluang lulusan untuk membangun usaha, mengembangkan inovasi, dan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
Pesan tersebut sejalan dengan dorongan agar lulusan ISTN memiliki kemampuan teknis, kreativitas, integritas, dan keberanian menciptakan peluang baru.
Empat Perspektif, Satu Tujuan: Meningkatkan Kualitas Pendidikan Tinggi
Pernyataan Rektor ISTN, Ketua Senat, Ketua Yayasan Perguruan Cikini, dan Kepala LLDikti Wilayah III Jakarta memperlihatkan empat perspektif yang saling melengkapi dalam pengembangan pendidikan tinggi.
Rektor menekankan peningkatan mutu pendidikan dan pencapaian visi ISTN Unggul 2030. Ketua Senat menyoroti transformasi budaya akademik dan integritas ilmiah. Ketua Yayasan Perguruan Cikini mengingatkan pentingnya karakter, tanggung jawab, dan inovasi lulusan. Sementara itu, Kepala LLDikti Wilayah III menegaskan perlunya pembaruan kurikulum dan penyesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan industri.
Keseluruhan pesan tersebut mengarah pada satu kepentingan utama: memastikan perguruan tinggi mampu menghasilkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap menghadapi perubahan teknologi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Bagi ISTN, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan komitmen tersebut melalui penguatan pembelajaran, pengembangan penelitian, peningkatan kualitas lulusan, dan kolaborasi yang lebih luas dengan dunia usaha serta industri.
ISTN Unggul 2030 bukan sekadar target institusi, melainkan cita-cita bersama yang membutuhkan komitmen, integritas, inovasi, dan kolaborasi seluruh sivitas akademika.
Melalui transformasi budaya akademik dan digital, ISTN diharapkan mampu memperkuat perannya dalam menghasilkan lulusan berkualitas sekaligus berkontribusi terhadap kemajuan ilmu pengetahuan, perkembangan industri, dan pembangunan Indonesia.
(bs)












































